Pagi ini mungkin bukan pagi yang baik untuk ku. Mungkin juga bukan awal yang baik untuk mengawalin aktivitas ku di hari ini. Hari ini seperti biasa, hari minggu, aku dan aktivitas ku untuk membereskan pekerjaan rumah ku. Terbangun dari tidur ku yang cukup nyenyak karna dering telepon genggam ku. Ku berusaha meraih dimana dering itu berbunyi, satu panggilan dari perempuan yang ku panggil tante.
Rasanya berat sekali mata ini untuk terbuka. Mulut pun juga enggan untuk berbicara. Tapi di ujung telpon sana terus beruasaha membangunkan dan mengajak ku ngobrol. Entah yang akan dibicarakan suatu hal yang penting, atau hanya sekedar omongon ringan. Badan ini terasa malas. Tapi mendengar suara di ujung telpon yang mengharap respon aku, akhirnya obrolan pun mulai terasa cukup untuk sekedar aku membuka mata.
Layaknya dua orang yang yang sedang berbincang, kami pun ngomong apa saja. Saling menceritakan apa yang bias di bagi. Obrolan pun semakin panjanng, dan tidak terasa aku pun sudah benar-benar terbangun dan rasa kantuk ku pun hilang. Banyak hal yang kami ceritakan, layaknya dua orang yang sedang bertatap muka.
Aku dan tante ku, tidak terbilang cukup dekat secara emosinal, tapi kami cukup akrab ketika saling bercerita. Sempat terfikir oleh ku, berharap hari ini adalah hari yang menyengankan untuk ku. Di tengah obrolan kami, tiba tante ku memutuskan untuk mengakhiri obrolan kami karna dia harus mengerjakan aktivitasnya. Telpon pun terputus... aku bangun dari tempat tidur ku yang cukup nyaman untuk membasuh muka ku yang masih sangat kucel.
Aktivitas di minggu pagi, membersihkan kamar dan membereskan pekerjaan rumah yang lain. Belum sempat semua pekerjaan aku selesaikan, terdengar dering telepon genggam ku lagi, tapi kali ini bukan telepon genggam yang sama. Telepon itu dari seseorang tempat aku berbagi untuk beberapa tahun ini. Obrolan biasa, bangun jam berapa, lagi ngapain dll...
Tapi rasanya kali ini aku tidak begitu bersemangat dan tertarik untuk ngobrol dengannya. Aku lebih banyak diam dan menjawab pertanyaannya. Sembari ngobrol, aku pun ber-sms dengan seorang yang ku sebut mas Indra. Yaeh...mas Indra, kakak pertama aku tumben pagi-pagi sms aku, adiknya ini. Awalnya semua berjalan baik-baik saja, obrolan kami pun enak-enak saja. Sampai akhirnya obrolan kami mulai tidak enak.
Aku pun mulai merasakan ketidaknyamanan. Tapi, aku berusaha untuk tetap bersikap baik, karena aku pikir ini mungkin saja karena rasa malas ku. Sampai akhirnya obrolan kami menjadi benar-benar tidak enak. Respon dan tanggapan kami masing-masing menjadi dingin. Aku tetap bertahan di ujung telepon dengan sabar, karena aku menghargai dia yang telah meluangkan waktunya dan perhatiannya untuk ku.
Puncak dari obrolan kami adalah respon yang dingin dan akhirnya ketidaknyamanan obrolan kami. Semuanya menjadi tidak enak rasanya. Di tambah lagi dengan perasaan ku yang beberapa hari belakangan ini tidak karuan, semua terpendam dalam batin ku. Rasa sesak di dalam dada ini akhirnya kluar dengan air mata.
Yaeh...aku cengeng... air mata ini sedikit demi sedit terus membasahi wajah ku. Aku tidak membiarkan seorang pu tahu jika aku sedang menangis. Aku tidak ingin mereka mengasihani ku. Ku biarkan rasa tidak karuan di hati dalam beberapa hari ini tanpa berbagi dengan orang lain. Ku pendam semuanya sendiri. Telepon pun terputus...
Obrolan kami berakhir, dan aku masih duduk dengan terus mengusap air mata ku. Tidak ku biarkan juga tangis ku hingga terisak. Walau yang ku rasakan aku sangat tidak nyaman dan aku tidak menyukai keadaan seperti ini. Aku ingin berlari meninggalkan semua ini sejauh mungkin. Namun aku sadar, aku tidak bisa melakukan itu.
Ku hapus air mata itu, dan aku bergegas untuk menyelesaikan perkerjaan ku yang tertunda. Ku berusaha untuk melupakan rasa ketidak nyamanan hati ku. Aku tidak ingin terus larut dalam perasaan yang tidak karuan. Aku lelah dengan perasaan dan fikiran ku. Sungguh aku ingin beristirahat untuk melupakan apa yang aku rasakan.
Aku mulai menulis apa yang ku alami hari ini, aku merasa di pagi yang cukup cerah ini tapi hati ku mendung dan hujan air mata yang rintik-rintik membasahi pipi ini. Telepon berdering lagi, dan kali ini dari seseorang yang melahirakan dan membersarkan ku. Ibu ku menelepon... Jujur, rasanya aku tidak ingin berbicara lagi. Aku takut perasaan ku yan tidak enak ini akan menyakitinya.
Aku beruasaha untuk terdengar baik-baik saja, karena aku tidak ingin membuatnya khawatir pada ku. Beliau banyak bercerita, samapai akhirnya seperti pada umumnya orang tua, nasehat untuk anaknya tidak pernah terlupakan. Semua berakhir. Telepon minggu pagi ini membuat aku tidak bersemangat...dan makin membuat batin ku tertkan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar