Kesehatan adalah penting adanya, mungkin semua orang akan setuju dengan ku soal ini. Ketika kesehatan teramat mahal bagi setiap orang. Hal serupa ini sedang ku alami. Saat aku harus membiasakan diri ku dengan sakit yang ku derita saat ini. Dahulu sebelum saat ini, jujur harus aku akui, aku mungkin adalah salah seorang yang jarang terserang gangguan kesehatan. Namun kini keadaan itu berbalik 180 derajat. Yaeh... Kini tubuh ku ini cukup mudah untuk terserang gangguan kesehatan.
Sedikit berbagi cerita, semenjak menginjakkan kaki ku di kota pelajar ini untuk menempuh pendidikan sarjana, aku mulai sering tidak sehat. Sebelumnya aku tidak pernah memiliki riwayat kesehatan seperti ini. Sakit yang terbilang cukup parah untuk ku sebelumnya adalah “malaria”. Tak ada gangguan kesehatan lainnya yang terbilang cukup parah yang menyerang ketahanan tubuh ku selain penyakit malaria.
Sungguh telah cukup banyak yang berubah. Kini aku mulai gampang terserang peyakit semenjak aku memutuskan untuk tinggal di kota gudeg ini. Entah apa yang salah dengan keadaan ini. Pola hidup ku kah yang salah ataukah ketahanan tubuh ku yang tidak cukup baik untuk lingkungan tempat tinggal ku saat ini.
Telah hampir 3 tahun aku bermukim di kota penuh budaya ini, telah cukup banyak juga riwayat kesehatan yang aku tuliskan dalam catatan kesehatan ku. Mungkin tidak perlu ku sebutkan satu per satu penyakit yang pernah menyerang tubuh ku. Tetapi untuk kali ini, aku telah benar-benar merasakan betapa mahalnya kesehatan itu.
Dalam sakit ku, ada semangat lain yang mampu menguatkan ku untuk tetap berjuang dan bertahan. Aku harus melawan sakit yang sedang ku derita. Karena ada banyak impian yang belum kuraih dan ku bingkai untuk kelak menjadi catatan perjalanan hidup ku dan cerita di hari tua ku nanti. Aku harus tetap semangat...
Aku percaya, sakit ku ini hanyalah bagian kecil dari teguran yang di berikan olehNya untuk ku. Teguran karna Ia masih mengasihi ku... mengasihi ku sebgai hambaNya. Tuhan... jika dengan sakit ini Engkau mengasihi ku, maka dengan tangan dan kaki yang lemah ini ku serahkan semua padaMu.
Sakit ini, takkan menghalangi bahkan menghentikan ku untuk meraih dan menjemput semua impian ku. Ini akan ku jadikan pelajaran berharga untuk tidak lagi mengabaikan kesehatan ku.
Rabu, 10 Februari 2010
Selasa, 19 Januari 2010
Mencoba Untuk Mengalah
Pagi ini mungkin pelajaran yang cukup untuk aku perhatikan dan membuat mata ini berkaca-kaca. Keadaan dimana aku harus berusaha meredam rasa sesak di dalam dada ini. Sebut saja amarah... yaeh untuk kesekian kalinya aku harus berusaha meredam amarah ini. Rasa ini bukan karna aku ingi marah atau apalah, tapi rasa untuk tidak menjadi orang yang yang mementingkan perasaan ku semata.
Ketika pembicara makin lama semakin terasa meninggi, tidak aku pungkiri rasa itu pun dengan seketika juga aku rasakan. Rasa dimana aku ingin perasaan ku sedikit dihargai. Saat pertanyaan ku membuat nada tinggi terlontar untuk ku. Sedikit kekecewaan yang aku rasakan, tapi sudahlah ku lupakan saja rasa kecewa itu. Mencoba untuk menahan rasa mementingkan perasaan ku. Dan melupakan kecewa yang melanda.
Sudahalah... Mungkin pertanyaan dan perhatian ku itu salah dan tidak pada tempatnya. Pertanyaan yang mengharuskan aku mendengar nada suara yang sedikit menekan perasaan. Seketika itu, hanya diam yang bisa aku lakukan. Ataukah mungkin seharusnya aku diam dan tidak berkata apa pun saat itu. Sedikit sesal mulai tumbuh dalam diri ini, dan pertanyaan di dalam kepala yang cukup sulit untuk tak ku hiraukan “ kenapa pertanyaan itu harus ku ucapakan?” pertanyaan yang tidak berkenan untuknya.
Haruskah aku marah ataukah haruskan aku pun mengucapakan nada suara yang sama yang terlontar untuk ku??? Entahlah, lupakan saja! Itu tidak bisa aku lakukan. Walaupun cukup untuk membuat mata ku berkaca-kaca. Lupakan... sekali lagi, ,memcoba untuk tidak mementingkan persaan sendiri. Perasaan ini tidaklah penting.
Diam sajalah dan memilih untuk pergi. Bisikan itu mampu mempengaruhi diri ini untuk tidak lagi berkata apa-apa. Cukup diam dan beruasaha menstabilkan rasa ini. Mengalah sajalah!!! Mungkin aku tidak cukup pantas menanyakan hal itu. Mungkin aku juga tidak cukup mengerti akan pertanyaan itu. Dan semoga diam ini tidak diartikan lain.
Ketika pembicara makin lama semakin terasa meninggi, tidak aku pungkiri rasa itu pun dengan seketika juga aku rasakan. Rasa dimana aku ingin perasaan ku sedikit dihargai. Saat pertanyaan ku membuat nada tinggi terlontar untuk ku. Sedikit kekecewaan yang aku rasakan, tapi sudahlah ku lupakan saja rasa kecewa itu. Mencoba untuk menahan rasa mementingkan perasaan ku. Dan melupakan kecewa yang melanda.
Sudahalah... Mungkin pertanyaan dan perhatian ku itu salah dan tidak pada tempatnya. Pertanyaan yang mengharuskan aku mendengar nada suara yang sedikit menekan perasaan. Seketika itu, hanya diam yang bisa aku lakukan. Ataukah mungkin seharusnya aku diam dan tidak berkata apa pun saat itu. Sedikit sesal mulai tumbuh dalam diri ini, dan pertanyaan di dalam kepala yang cukup sulit untuk tak ku hiraukan “ kenapa pertanyaan itu harus ku ucapakan?” pertanyaan yang tidak berkenan untuknya.
Haruskah aku marah ataukah haruskan aku pun mengucapakan nada suara yang sama yang terlontar untuk ku??? Entahlah, lupakan saja! Itu tidak bisa aku lakukan. Walaupun cukup untuk membuat mata ku berkaca-kaca. Lupakan... sekali lagi, ,memcoba untuk tidak mementingkan persaan sendiri. Perasaan ini tidaklah penting.
Diam sajalah dan memilih untuk pergi. Bisikan itu mampu mempengaruhi diri ini untuk tidak lagi berkata apa-apa. Cukup diam dan beruasaha menstabilkan rasa ini. Mengalah sajalah!!! Mungkin aku tidak cukup pantas menanyakan hal itu. Mungkin aku juga tidak cukup mengerti akan pertanyaan itu. Dan semoga diam ini tidak diartikan lain.
Langganan:
Postingan (Atom)
