Jumat, 04 Desember 2009

Kekurangan Di Hari Nan Fitri

Waktu libur adalah waktu yang sangat di nantikan oleh setiap orang yang memiliki rutinitas. Tidaklah banyak waktu libur itu ada. Selalu dinantikan waktu tidak lagi beraktifitas rutin seperti biasa. Sejenak berhenti untuk sekedar istirahat atau merilekskan tubuh dan fikiran dari kepenatan. Inilah alasan, mengapa setiap orang yang memiliki aktivitas rutin untuk selalu menunggu waktu itu.

Aku adalah salah seorang dari sekian banyak orang yang selalu menunggu hari itu. Aktivitas rutin ku saat ini adalah menjadi seorang mahasiswi aktif disebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Tepatnya, aku adalah seorang mahasiswi jurusan “Ilmu Komunikasi”. Walau aku bukan seseorang yang sangat sibuk, namun aktivitas ku terkadang membuat aku harus menunggu waktu libur itu tiba.

Terlebih lagi, aku adalah mahasiswi dari luar kota gudeg ini. Seorang pendatang yang jauh dari rumah dan keluarga, pasti akan selalu merindukan keluarga dan rumah. Walau salah satu dari orang tua ku adalah orang asli kota pelajar ini dan ibu ku berasal dari suku jawa, tetapi aku tetap seorang pendatang di kota ini. Keluarga ku adalah keluarga perantau yang tidak berdomisili di Yogyakarta. Saat ini keluarga ku bertempat tinggal di sebuah kota yang terletak di pulau sebelah timur Indonseia.

Aku berasal dari kota kecil yang bernama monakwari, provinsi Irian Jaya Barat atau biasa lebih di kenal dengan provinsi Papua Barat. Di kota manokwarilah tempat aku dan keluarga ku menetap. Tempat tinggal yang cukup jauh dari kota yang terkenal dengan malioboronya ini. Saat ini aku berada Yogyakarta untuk berkuliah.

Aktivitas ku sebagai seorang mahasiswi terkadang membuat ku merasa jenuh. Kesibukan perkulihan yang cukup padat, membuat ku merindukan hari libur. Waktu tidak lagi aku berada di kampus dan mengikuti perkuliahan. Waktu dimana aku bisa beristirahat dan berlibur.

Akhirnya waktu itu tiba juga. Sekarang aku bisa berlibur dan beristirahat. Libur itu bertepatan dengan hari raya idul fitri. Hari raya umat islam, yang setipa tahunnya selalu di nanti. Liburan lebaran ini, waktu untuk aku pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarga ku. Tidak terasa sebentar lagi lebaran.

Berhubung jarak dari Yogyakarta ke kota tempat aku tinggal cukup jauh, perjalanan yang aku tempuh pun akan sedikit terasa lama. Transportasi yang aku gunakan saat itu adalah transportasi udara. Jarak kota tempat aku berasal hanya dapat di tempuh dengan menggunkan trasportasi udara dan air (laut). Transportasi udara pada saat itu yang aku gunakan adalah pesawat merpati.

Perjalanan ku saat itu sungguh melelahkan. Aku berangkat dari bandara Adisucipto Yogyakarta pukul 18.00 WIB dan tiba di bandara Sukorno Hatta Jakarta pukul 18.40 waktu setempat. Di bandara Sukarno Hatta aku harus menunggu berjam-jam untuk penerbangan ku selanjutnya menuju Makassa. Hal yang sangat aku benci untuk melalukannya, menunggu.

Menunggu seorang diri dan berjam-jam di bandara adalah hal yang tidak akan aku lupakan. Sungguh sangat menyebalkan! Tidak ada yang bisa aku lakukan sembari menunggu jadwal penerbangan ku selanjutnya. Aku hanya duduk menunggu di ruang transit bandara. Sendiri, sepi dan tak ada satu orang pun yang aku kenal.

Hal yang sangat aku benci! Aku hanya berputar-putar di dalam ruang transit tanpa melakukan apa-apa. Saat itu rasanya seluruh tulang di tubuh ku mau remuk. Lelah, dingin dan kantuk yang ku rasakan saat itu. Ketika itu yang trfikirkan oleh ku adalah hanya sampai di rumah dan istirahat dengan nyaman.

Pukul 23.00 waktu setempat, aku berangkat menuju Makassar. Akhirnya aku meninggalkan bandara Sukarno Hatta juga. Jarak tempuh Jakarta-Makassar adalah 2 jam 45 menit. Waktu yang terhitung cukup lama untuk sebuah perjalanan. Sekitar pukul 3 dini hari waktu setempat, aku tiba di bandara Sultan Hassanudin Makassar. Tidak butuh waktu lama setelah pendaratan di bandara Makassar, perberbangan ku di lanjutkan k Manokwari.

Setelah menjalani perjalanan yang cukup lama dan melelahkan, akhirnya pukul 06.30 pagi waktu setempat aku sampai di kota kepala burung itu. Rasanya senang sekali, bisa kembali lagi di kota kelahiran ku. Liburan ku di kota tempat kelahiran ku selalu membawa rasa tersendiri dan berbeda untuk ku. Bahagia rasanya bisa ada di rumah lagi dan berkumpul dengan orang-orang terkasih.

Tak terasa liburan ku telah mendekati hari nan fitri yang selalu dinantikan. Hari raya idul fitri sebentar lagi. Mulut ini tak lagi mampu berkata apa-apa, yang ada hanyalah persaan bahagia dan haru yang ku rasakan saat itu. Akhirnya hari lebaran itu tiba, alunan suara takbir menggema di seluruh kota. Suara takbir penanda telah tibanya hari raya idul fitri.

Entah mengapa saat itu yang ku rasakan bahagia itu ada yang kurang. Di saat merayakan lebaran bersama seluruh keluarga ku, tidak lengkap rasanya tanpa kehadirannya. Ketiadaannya membuat rasa kekurangan itu begitu terasa bagi ku, ibunda ku dan kedua kakak ku. Rasa bahagia kami tak lengkap, karna lebaran ini adalah lebaran ke 3 tanpa kehadirannya.

Kami sekeluarga telah kehilangannya, terlebih aku yang sangat kehilangan sosoknya. Dia begitu dekat dengan ku, bahkan sebagian besar hari-hari ku selalu ku habiskan bersamanya. Tetapi 3 tahun sudah aku kehilangan sosoknya. Saat yang sangat terasa adalah waktu lebran seperti ini, kami sungguh merasa kehilangannya.

Seperti yang sering dilakukan, sepulang sholat Ied sesampainya di rumah aku dan ke 2 kakak ku meminta maaf kepada orang tua. “Sungkem” kebiasaan yang selalu kami lakukan di saat hari raya. Namun, hari raya saat itu aku hanya sungkem pada ibunda ku saja. Kursi di sampingnya kosong, tak ada yang menempati. Sudah tiga tahun setiap lebaran kursi itu kosong. Aku hanya bisa melihat kursi itu tetap kosong n lukisan wajahnya yang terpanjang di rumah kami.

Air mata ibunda ku membasahi wajahnya yang mulai menua itu. Aku tahu yang di raskannya, dia juga sangat kehilangan sosoknya. Tak banyak yang ia ucapkan saat itu, ia hanya berkata “seandainya saja dia masih ada di sisi kita saat ini”, ucapan yang sangat terasa di hati ku. Hanya terdengar isak tangisnya yang pelan pagi nan fitri itu, dan ia berkata “walaupun kurang tapi kita aharus tetap bahagia, dan dia pun di sana juga akan bahagia melihat kita”.

Ini adalah sepenggal kisah ku di hari nan fitri dengan kekurangan kami tanpa sosoknya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar